Sungguh tinggi nilai yang diberikan kepada kita yang menghuni menara gading sehingga menerima gelaran mahasiswa. Pernah timbul konflik antara golongan bahasa dan teologi tentang penggunaan frasa ‘maha’ itu yang selayaknya untuk Tuhan sahaja. Konflik tersebut akhirnya diam seribu bahasa apabila pihak eksekutif (Menteri Pendidikan) campur tangan. Bukan itu isunya. Saya ingin kita bertaakul tentang nilaian yang tersirat di sebalik gelaran mahasiswa yang kita terima. Layakkah kita mendukung idealisme masyarakat yang inginkan keadilan dan kesejahteraan melalui kerajaan yang bersih? Seharusnya kita mampu. Bagi golongan massa, mereka melihat mahasiswa sebagai entiti yang paling kuat dan paling ampuh bertenaga dalam menyampaikan saranan dan kritikan sehingga libasan maut bicara hikmat mahasiswa itu mampu melumpuhkan sendi kekuatan kerajaan yang korup. Harapan itu tinggal angan-angan yang menjadi khazanah lapuk di minda dangkal mahasiswa yang tidak berani menggugat. Roh reformasi mahasiswa 1970-an hingga lewat 1990-an sudah semakin malap. Badai gelora tsunami, garangan demi garangan akhirnya mulai surut ditelan zaman. Mungkin mahasiswa dan masyarakat awam yang lainnya patut membuat akad, waad sebagai Sri Tri Buana dan Demang Lebar Daun. Saya fikir pimpinan pelajar (sama ada MPP, GAMIS, PKPIM, dan lain-lain) dapat melakukan sesuatu yang luar biasa dan dapatlah beraksi nakal sedikit sebagai tabiat orang muda untuk menyedarkan orang tua di singgahsana Putrajaya. Masih ada lagi ruang rasional sebelum meletupnya kegilaan demi kegilaan mahasiswa yang semakin menggugat. Kita akan bergendang bersama menuju puncak.
Pengalaman Bukan Guru Terbaik Guru Menurut Permission to Forget oleh Lee
Jenkins
-
HasrizalAn educator, author, and advocate for inclusive education with a
career spanning leadership, innovation, and personal growth. While locally
rooted,...
4 hours ago


Golongan Islamist (izinkan saya menggunakan istilah ini) bercakaran sesama sendiri. Fenomena itu bukannya baru berlaku bahkan ada yang menyifatkan hal ini persis virus yang akan melumpuhkan penghidapnya. Suatu ketika dulu, ada seorang pengunjung blog Muslimin Agung yang mengelarkan dirinya sebagai ‘ambil berat’ yang mempersoalkan permasalahan ini. Beliau turut mempersoalkan kerelevanan ‘budak masjid’ menyertai PRK. Saya prejudis, dia ini muncul dari golongan anti-politik. Saya cukup kesal dan sedih, ketika golongan yang sedar dan celik politik itu kecil jumlahnya berbanding penganut golongan sedar ini pula tenggelam dalam diskusi yang entah di mana hujung pangkalnya. Apatah lagi wacana tentang hal ini dibahaskan dengan penuh emosi, dan meminjam teladan sejarah secara membuta tuli lagi tepu dengan elemen romanticism yang tidak rasional di blog para dai'e berdarah muda.



